Wapres Belanja Sepatu Cibaduyut
Wapres Jusuf Kalla (tengahi) bersama Ibu Mufidah Jusuf Kalla (kedua kiri), Menteri Perindusterian Fahmi Idris (kiri) serta Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (kanan) memperhatikan kualitas sepatu ketika mengunjungi pabrik sepatu lokal di Bandung, Jabar, Senin (3/3). (Foto ANTARA/Saptono)

Bandung (ANTARA News) – Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyempatkan belanja sepatu dan tas saat berkunjung ke toko-toko di Cibaduyut dan berkeliling pabrik sepatu Fortuna, di Bandung, Senin.

Wakil Presiden yang juga didampingi Menperin Fahmi Idris mencoba sejumlah sepatu di toko Oval Factory Outlet dan memilih sepatu bermerk Adlos berwarna coklat muda ukuran 39, setelah sebelumnya bertanya kepada pemilik toko apakah ada sepatu bernomor 23, nomor urut partai Golkar.

Ia juga berkunjung ke sejumlah toko-toko kecil di Cibaduyut seperti toko khusus boot D`Class dan toko tas Indah Collection untuk membeli tas kantor kulit berwarna hitam.

Sebelumnya, Wapres sempat berdialog dengan ratusan pengrajin dan pengusaha sepatu di Pabrik Sepatu Fortuna yang dipandu oleh Gubernur Jawa Barat Achmad Heryawan.

“Ketemu saya harus saya cek sepatunya dulu, demikian juga menteri. Semua menteri yang rapat periksa sepatunya. Dan saya minta di kantor Anda periksa lagi sepatu anda punya anak buah,” katanya.

Minat terhadap produk luar negeri, ujarnya, harus diatur dalam Inpres, sehingga rakyat Indonesia bisa terbiasa bangga terhadap buatan negeri sendiri.

Perdagangan, ujarnya, sering kali tidak fair, produk Indonesia hanya dicap oleh pengusaha asing lalu dijual dengan harga tinggi di luar negeri.

Nike produk Indonesia seharga 15 dollar AS dijual ke AS oleh pengusaha asing menjadi 100 dollar AS atau lebih dari lima kali harga beli dari harga di Indonesia. Keuntungan terlalu besar, tambahnya.

“Dulu rakyat AS beli barang mahal dan tidak sesuai harga aslinya, dengan krisis global ini ada perubahan harga sehingga rakyat AS membayar lebih sesuai. Semoga produk Indonesia menjadi lebih laku,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, ekspor sepatu adalah yang tertinggi dari barang manufaktur Indonesia dalam meraih devisa.

Namun di dalam negeri pasarnya hanya 40 persen dengan nilai penjualan Rp25 triliun, sisanya 60 persen dikuasai sepatu dari luar negeri.

Pihaknya menargetkan tahun ini sepatu dalam negeri bisa menguasai 60 persen pasar dalam negeri, khususnya jika ada dukungan Inpres.

“Dengan majunya sepatu dalam negeri kita tidak hanya dapat devisanya, tetapi juga bisa membantu memberi lapangan pekerjaan minimal 100 ribu orang,” katanya. (*)